Kapurung yang Menyatukan. :D

Kapurung, makanan khas dari daerah Sulawesi. Terbuat dari sagu yang dikenyalkan lalu dicampur dengan sayur-sayuran seperti bayam dan kangkung.

Awalnya, bumbu-bumbu dasar seperti bawang, cabai, terasi, garam, dihaluskan. Cincang kasar sayur-sayuran yang akan dicampur. Lalu, cuci hingga bersih dan tiriskan.

Bagian yang paling seru adalah membuat tepung sagu menjadi bulat-bulatan lengket. Sagu ini adalah bagian paling penting dalam kapurung. Rasanya tawar namun ketika dicampur dengan sayur-sayuran, maka akan sangat enak sekali. Lalu, masak ikan asin. Goring hingga kering, setelah itu cincang kasar.

Tak lupa kacang yang sudah disangrai, ditumbuk hingga kasar. Maka serpih-serpih kacang akan terasa di dalam hidangan kapurung.

Campur semua sayuran, sagu yang sudah dibulat-bulat, ikan asin goreng, kacang tumbuk dan bumbu yang sudah dihaluskan.

Masak hingga sayur agak layu dan bumbu sudah meresap. Kapurung pun siap dimakan…

Yummy,, semakin pedas kapurung, semakin mantap. Hehehe.
:D

 

Catatan Belajar Struktualisme

Hasil pembelajaran tentang Struktualisme di rumah kecil Identitas Unhas. Sabtu, 7 April 2012..

Strukturalisme sebuah paham atau pandangan yang bisa dikatakan ia memahami bahwa semua masyarakat punya struktur yang sama. Paham ini di buat oleh Ferdinand de Saussure. Ia membagi dua yaitu Langue dan Parole. Dimana Langue bisa dikatakan sebagai bahasa yang menjadi kesepakatan suatu komunitas. Langue, bisa berarti bahasa yang digunakan secara umum. Sedangkan Parole berarti suatu bahasa yang bisa dimengerti oleh beberapa dalam suatu komunitas. Misalnya bahasa isyarat atau bahasa tubuh.

Struktualisme dipahami sebagai binary oposisi atau pasangan berlawanan. Misalnya stigmatik dengan paradigmatik, petanda dan penanda, instrinstik dengan ekstrinstik, diakronis dan sinkronis. Namun, struktualisme dianggap “gagap” ketika menghadapi dunia real atau nyata. Seperti adanya Waria dalam dunia. Jadi bukan hanya laki-laki dan perempuan yang ada di dunia ini.

Perkembangan dari struktualisme adalah post struktualisme yang beranggapan bahwa tidak semua harus memiliki pasangan. Jadi sama seperti Waria diatas, masih ada beberapa opsi lain selain laki-laki dan perempuan. Post struktualisme akan dibahasa minggu depan..

Pariwisata Berbasiskan Ekologi dan Pendidikan (Eko-Edu-Tourism); Ekosistem Mangrove

Apa kalian mengenal Nypah fruticans, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Avicennia alba maupun Xylocarpus granatum? Mungkin bagi yang sering datang ke daerah pesisir sudah tak asing lagi mendengar namanya. Nama-nama latin tadi adalah beberapa jenis mangrove atau bakau yang hidup di daerah Sulawesi Selatan. Sebuah kekayaan yang bisa menjadi nilai tambah bagi pariwisata Sul-sel. Kenapa bisa? Nah, kali ini saya akan mencoba mengenalkan sebuah konsep yang mungkin sering anda dengar tapi masih jarang pemanfaatannya.

Dimana konsep Ekologi dan Pariwisata yang dijadikan satu, menjadi Ekowisata. Tujuannya untuk mendidik wisatawan, untuk menyediakan dana untuk konservasi ekologi , langsung bagi kepentingan pembangunan ekonomi dan politik pemberdayaan masyarakat lokal, atau untuk mendorong rasa hormat terhadap perbedaan budaya dan untuk hak asasi manusia .

Sejak 1980-an ekowisata telah dianggap sebagai upaya kritis dengan lingkungan, sehingga generasi mendatang dapat melanjutkan tujuan lingkungan. Beberapa program universitas menggunakan deskripsi ini sebagai definisi kerja ekowisata. Salah satunya Universitas Hasanuddin jurusan Ilmu Kelautan. (promosi kampus.. hehehe)

Karena itulah konsep ekowisata bisa menjadi konsep unggulan di Sul-sel selain wisata budaya, wisata kuliner, atau wisata modern. Kenapa bisa saya katakan seperti itu? Dapat pelajarannya tentang lingkungan, kita dapat juga liburannya. Enak kan?

Menurut Martha Sayang ada beberapa karakteristik ekowisata, yaitu :

• Melibatkan perjalanan ke tujuan alam

• Meminimalkan dampak

• Membangun kesadaran lingkungan

• Memberikan manfaat keuangan langsung untuk konservasi

• Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat setempat

Sul-sel memiliki banyak potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain, seperti tempat lahir saya, Jakarta. Potensi gunung, hutan dan laut bisa dijadikan sebagai objek wisata yang menarik banyak pengunjung. Misalnya saja potensi sumberdaya hutan yang sangat besar yaitu 2.121.984 Ha atau sekitar 14,54% dari luas daratan Sul-sel. Dimana Hutan Lindung memiliki besar 1.259.239 Ha, Hutan Produksi 655.344 Ha, dan Hutan Konservasi 207.401 Ha (Dinhut, 2010).

Perhitungan diatas juga termasuk dalam hutan mangrove yang ada di Sulsel. Jika di maksimalkan potensi tersebut, pemerintah ataupun masyarakat bisa mendapatkan keuntungan.

1. Ekonomi berbasiskan masyarakat

Ada beberapa jenis mangrove di Sulsel yang bisa dimanfaatkan mulai dari kayu, buahnya, dan daunnya. Misalnya saja di daerah Maros yang membuat sirup dan dodol dari bahan baku buah mangrove. Masyarakat Pulau Bauluang yang menjadikan kayu mangrove sebagai bahan bangunan atau kebutuhan memasak. Banyak warga yang akhirnya menjual kayu-kayu dari pulau tersebut di salurkan ke pulau-pulau lain. Tapi, para warga menanam mangrove setiap tahunnya. Jadi, selalu ada keberlanjutan hidup mangrove di pulau tersebut.

2. Eko-edu-wisata

Panorama di PPLH Puntondo

Pariwisata yang dipadukan antara pendidikan berkonsepkan lingkungan. Misalnya saja Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo. Di PPLH, para siswa bisa belajar tentang ekosistem wilayah pesisir seperti mangrove dan terumbu karang. Jadi mereka berwisata sambil belajar menanam mangrove dan transplantasi karang. Keberlanjutan lingkungan yang mereka pelajari menjadi salah satu tujuan dari penanaman konsep belajar dan lingkungan. Masyarakat di sekitar PPLH pun mendapatkan keuntungan seperti pelatihan lingkungan yang dilakukan oleh PPLH. Atau pelatihan meramu bahan alam untuk dijadikan penganan.

Mahasiswa Ilmu Kelautan Unhas Menanam Mangrove di Maros

3. Budaya dan Sejarah

Ternyata salah satu ritual penting ketika melakukan pernikahan bagi orang Makassar yaitu membawa Erang-erang untuk pengantin perempuan. dimana dalam Erang-erang dulu membutuhkan buah mangrove. Menurut salah seorang dosen saya, buah mangrove (Nypah fruticans) menjadi salah satu buah yang dibawa ketika Panaik. Jadi, semakin banyak jenis buahnya maka semakin baguslah erang-erang yang dibawa. :D sedangkan untuk sejarah, pasti banyak yang belum tau sejarah Pelabuhan Rakyat Kayu Bangkoa. Ternyata pada zaman dulu, pelabuhan tersebut dijadikan pelabuhan kayu mangrove dari berbagai pulau. Jadi sebelum dijual di Makassar, kayu mangrove (Bangkoa) disimpan disana. Sehingga pelabuhan itu disebut Pelabuhan Kayu Bangkoa. Hmmm. Lumayan menambah pengetahuan kan, ternyata, mangrove banyak manfaatnya. Hehehe.

4. Fungsi Fisik dan Biologis

Mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi pantai jika ditanam di garis pantai. Selain itu bisa mengendalikan intrusi air laut serta melindungi daerah  belakang mangrove dari hempasan angin dan gelombang. Selain itu untuk fungsi biologis sebagai tempat mencari makan, memijah dan berkembang biak biota yang dekat dengan ekosistem mangrove tersebut.

Konsep pariwisata yang bisa diambil oleh pemerintah Sulsel seperti yang sudah dijalankan di beberapa negara seperti Kosta Rika , Ekuador , Nepal, Kenya, Madagaskar dan wilayah seperti Antartika , ekoturisme merupakan bagian yang signifikan dari produk domestik bruto dan kegiatan ekonomi.

Terkadang potensi seperti inilah yang kurang dimanfaatkan oleh pemerintah Sulsel untuk menambah devisa daerah. Itu hanya beberapa contoh manfaat ekowisata berbasiskan ekosistem hutan mangrove. Belum lagi tambahan devisa dari pariwisata bawah laut. Hmmm. Banyak keindahan alam Sulsel yang belum dioptimalisasi dengan baik. Misalnya daerah Delta Sungai Tello dan Desa Lakkang, disana banyak mangrove yang tumbuh disana. Namun kurang dimanfaatkan sehingga tidak menimbulkan manfaat apa-apa bagi pemerintah maupun masyarakat.

Mangrove di Sungai Tallo

Mungkin catatan kecil tentang pariwisata berbasiskan ekologi bisa menambah ide tentang strategi pariwisata Sul-sel.

*tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Konten Blog South Sulawesi

Wisata Sejarah di Desa Lakkang

Selamat Datang di Desa Lakkang

Kali ini saya ingin mengajak anda lebih mengenal tentang Wisata Sejarah di Sulawesi Selatan khususnya di Kota Makassar. Sebuah kota yang sarat dengan sejarah masa kejayaan Kerajaan Gowa dan masa perlawanan melawan penjajahan Belanda, Portugis ataupun Jepang.

Banyak yang bisa digali oleh traveller pecinta wisata sejarah di kota Anging Mammiri ini. Salah satunya adalah Bunker Peninggalan Jepang yang terletak di Desa Lakkang. Sebuah desa kecil yang berada di Delta Sungai Tallo, dihuni oleh sekitar 500 KK.

Minggu pada awal Februari, saya bersama Arif pergi bersepeda menuju Desa Lakkang. Dimana pada tahun 2011 diresmikan sebagai desa wisata utnk Sulawesi Selatan. Bunker Jepang didaulat sebagai titik utama wisata untuk Desa Lakkang. Selain itu, ada juga dermaga untuk memancing ikan.

Oia, saya naik sepeda dari Universitas Hasanuddin ke Teaching Farm lalu ke arah Desa Kera-kera. Disini ada dermaga yang selalu ada kapal untuk menuju Lakkang, dengan uang Rp 2000 kita bisa berwisata ke Lakkang. Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit hingga sampai di Lakkang.

Kapal menuju desa Lakkang

Sesampainya di Lakkang, saya langsung menikmati udara pagi di rerimbunan pohon bambu. Keadaan yang sangat tenang, saya daulat sebagai tempat yang bagus untuk belajar kelompok. hehehe. Desa Lakkang sudah memiliki akses yang baik. Jalan-jalan dari batu dibuat untuk menghubungkan rumah satu dan lainnya. Jadi tidak perlu becek-becekan ketika musim hujan tiba. Sebuah awal yang bagus buat pemerintah untuk menunjang pariwisata di Desa Lakkang.

Setelah puas berputar-putar di sekitar desa, saya pun menuju bunker Jepang yang menjadi buah bibir. Sebuah bunker yang terletak dekat dengan rumah warga tertutup daun-daun bambu yang menguning. Awalnya saya tidak melihat bunker tersebut, tapi setelah melihat papan bertuliskan Bunker Jepang, saya pun mencoba masuk ke dalam bunker.

Hawa dingin merebak ketika mulai memasuki tangga bawah tanah. Brrrr. aneh hawanya, akhirnya saya malah keluar dan foto-foto di luar bunker. Hanya Arif yang berani masuk ke dalam bunker.. hiiii. Di dalam terasa hawa dingin,, ckckck… Saya pun mencoba berspekulasi, mungkin disini pernah ada tentara Jepang yang meninggal. hehehe.

Setelah puas melihat bunker Jepang, saya pun pergi bersepeda lagi. Melihat-lihat aliran sungai Tallo yang tepiannya dihiasi oleh pohon mangrove. Hidup pula beberapa jenis burung pemakan ikan yang bertengger di pohon-pohon mangrove. Indahh.. :D

Pemerintah sudah tepat untuk menjadikan Desa Lakkang sebagai desa wisata, tetapi perlu suistanibility (keberlanjutan) dalam program wisata. Jangan hanya euforia di awal peresmian sebagai desa wisata. Tetapi butuh pendampingan menuju desa wisata yang lebih baik dan bisa menambah pendapatan masyarakat di Desa Lakkang. :D

Pintu Masuk Bunker

Jam tangan menunjukkan pukul 10.00 Wita, saya dan Arif mengayuh sepeda kembali ke dermaga. Meninggalkan Desa Lakkang salah satu tempat wisata sejarah di Kota Makassar. Sebuah desa yang memiliki banyak kisah tentang masa perlawanan rakyat Indonesia dengan Jepang.

*catatan perjalanan ini dibuat untuk ikut Lomba Blog Konten Blog Bertema: “Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan”

Mencoba Masuk...

Keindahan Sungai Tallo

Surga Bawah Laut itu Namanya Kapoposang

Keindahan Kapoposang sudah menjadi buah bibir di semua penyelam. Dua minggu lalu, Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (FoPMI) datang dan mencicipi sepotong keindahan yang diberikan oleh Tuhan. Nyaris semua penyelam dari berbagai daerah itu berdecak kagum dengan keadaan di Kapoposang.

Perjalanan Singkat Menuju Surga Bawah Laut

Awal Perjalanan Menuju Pulau Kapoposang kami lakukan pada hari Sabtu (10 Maret 2012). Dengan menumpang truck TNI AL, kami menaiki kapal Novita Sari di Pelabuhan Kayu Bangkoa. Sebuah pelabuhan rakyat yang dulunya digunakan sebagai transit kayu bangkoa (bakau.red) dari pulau-pulau di gugusan Spermonde. Namun, saat ini pelabuhan ini hanya berfungsi sebagai pelabuhan bagi kapal yang ingin menuju pulau di sekitar Makassar.

Cuaca saat ini masih kurang bersahabat. Memasuki kawasan perairan Pangkajene Kepulauan (Pangkep), kapal mulai bergoyang. Sang Nahkoda, H. Dahring tetap tenang membawa kapal walau banyak dari penumpang yang sudah mual dan akhirnya muntah. Maklum saja, jika cuaca sedang tidak baik, tinggi ombak bisa sampai 5 meter. Cukup untuk bisa membuat kapal bergoyang-goyang. Apalagi jika melewati daerah Pulau Kondong Bali, disana arusnya lumayan kencang.

Akhirnya, kami menempuh perjalanan hampir sekitar 5 jam. Ketika kapal sudah mulai memasuki kawasan perairan Pulau Kapoposang. Para penyelam mulai bersiap untuk turun menyelam. Persiapan seperti Bouyancy Control Device (BCD), Masker, Regulator, Tabung Selam dan Fins dipersiapkan.

Satu per satu penyelam mulai turun dengan posisi penyelaman masing-masing. Ada beberapa posisi entry selam jika sedang berada di atas kapal, yaitu Giant Step entry atau Back Roll entry. Posisi entry seperti itu digunakan diatas kapal besar yang stabil. Karena perairan Pulau Kapoposang sangat landai, maka kapal besar tidak bisa memasuki pantai Kapoposang.

Tak semua penyelam turun pada sore ini. Saya memilih untuk turun dan menaiki kapal kecil yang hanya muat untuk 10 orang. Penduduk lokal menyebutnya Katinting’. Bahasa lokal Makassar untuk menyebut jenis kapal tersebut.

Menjejakkan Kaki di Pasir Putih

Ketika pertama kali tiba di Kapoposang, saya langsung mencari tempat duduk. Seorang penduduk pulau dengan ramah memberikan saya kursi plastik warna hijau. Teman-teman mulai mengambil posisi masing-masing untuk beristirahat.

Serbuuuu..

Tak lama kemudian, seorang teman berinisiatif meminta kelapa muda kepada penduduk yang terlihat menggoda di atas pohon. Cuaca panas

membuat saya dehidrasi dan memang membutuhkan asupan kesegaran. Akhirnya satu per satu kelapa jatuh ke tanah. Kami berebutan buah kelapa yang ada. Sekira 30 menit kemudian, kelapa tak tersisa. Habis masuk ke dalam perut masing-masing.

Pohon kelapa yang menjulang tinggi menjadi pemandangan yang tak asing di pulau ini. Buah kelapa menjadi salah satu komoditas utama di pulau ini. Penduduk pulau Kapoposang senang dengan buah kelapa. Entah dibuat untuk pupuk tanaman kelapa, bahan bakar, atau untuk diminum ketika haus.

Keindahan Sunset di Kapoposang

Dermaga at Sunset..

Keindahan wisata bahari tidak akan lengkap tanpa melihat sunset. Rutinitas melihat sunset sudah rutin saya lakukan ketika saya pertama ke pulau. Menurut saya, sunset merupakan anugerah terindah. Di tempat tinggal saya, Bogor, sangat sulit pergi ke pantai. Jarak yang jauh dan

mahalnya transportasi membuat saya jarang ke pantai.

Jadi, kesempatan melihat sunset akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk merenungi pemberian Tuhan kepada saya.

Mencicipi Surga Bawah Laut

Kapoposang terkenal dengan keindahan terumbu karangnya. Jika pulau-pulau di sekitar Kapoposang terumbu karang sudah hancur karena di bom. Maka di Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang kita masih bisa melihat banyak terumbu karang yang utuh dan sangat cantik.

foto by Untung Saroha Sihombing

Warna-warni soft coral (karang lunak) dan hard coral (karang keras) menghiasi panorama bawah laut. Sebuah lukisan indah yang dimiliki oleh Kapoposang.

Kondisi perairan yang jernih dan daya penglihatan (visibility) yang baik menjadi daya tarik wisatawan yang paling utama. Belum lagi keindahan Kapoposang yang terbagi dalam beberapa titik penyelaman.Yaitu Cave Point, Turtle Point, Januar Point, Tanjung Point, Teluk Point, Marjono Point, Aquarium Point, Nakano Point dan sang primadona bagi para diver Shark Point.

Dive point tersebut sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Beberapa titik penyelaman terletak disekitar pulau dengan waktu tempuh sekitar 5 – 30 menit dari bungalow seperti Aquarium Point.

foto by Untung Saroha Sihombing

Untuk para photographer pengejar keindahan bawah laut untuk diabadikan menggunakan kamera, wajib datang kesini. Karena banyak titik penyelaman yang bisa menghasilkan foto yang spektakuler seperti Cave Point, Turtle Point dan Shark Point. Biota laut nan cantik seperti Nudibranch (kelinci laut), kima, dan berbagai hewan lainnya menunggu kalian di bawah sana.

Selamatkan Penyu dari Kepunahan

Kapoposang tak cuma terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Di pulau ini, ada tempat penangkaran bagi Penyu. Bedakan antara penyu dan kura-kura lho! Satwa langka dengan nama latin Chelonia mydas ini ditangkarkan oleh masyarakat setempat bernama Komunitas Bahari. Pulau Kapoposang memang dikenal sebagai salah satu tempat penyu bertelur. Jadi, ada beberapa penyu yang memang dirawat dan dijaga hingga dewasa dan di lepas. Namun ada beberapa tukik yang langsung di lepaskan ke laut. Jadi, datanglah ke Pulau Kapoposang pada bulan Februari, mungkin saja anda bisa melihat penyu yang bertelur dan dilepaskan ke laut.

Saya senang melihat penyu-penyu remaja yang sedang berenang di dalam kolam penangkaran. Pemandangan yang mungkin bisa dilihat di beberapa daerah seperti Kawasan Ujung Genteng. Mari kita sama-sama menyelamatkan hewan ini dari kepunahan. Hidup penyu!!

Fasilitas di Kapoposang

Sebagai salah satu destinasi wisata bahari di Sulawesi Selatan, Kapoposang memiliki beberapa fasilitas penunjang. Penginapan dengan jenis cottage dan bungalow tersedia disana. Ada juga lho sebuah kamar dengan fasilitas untuk keluarga BESAR. Karena terdiri dari banyak kasur. Bisa ngajak mbah, cucu, sepupu, ayah, ibu, adik, kakak dan pacar atau gandengan tentunya.

Pemandangan dari bungalow juga sangat mengasyikkan. Sunset bisa kita lihat dengan baik di arah barat. Selain itu, kalau nginep di bungalow ada sebuah point dive yang sangat indah yaitu Aquarium Point. Terletak tepat di depan bungalow, mungkin sekitar 5 menit kita sudah bisa melihat ikan-ikan kecil nan indah.

Namun, jangan harap ada sinyal telepon genggam disini. Sulitnya sinyal menjadi salah satu kendala yang harus segera dicarikan solusinya. Jadi, jangan harap bisa SMS-an, internet-an, BBM-an dan lain-lain menggunakan handphone. Buat yang Handphone Addict, siap-siap nangis “bombay”.. hahaha.

Tak hanya itu, fasilitas transportasi menuju Kapoposang juga sangat minim. Hanya orang-orang ber-budget besar yang bisa datang ke pulau tersebut. Tidak tersedianya kapal reguler, membuat sedikit pengunjung kesini. Biaya untuk menyewa Speed Boat sekitar 300 ribu untuk pulang pergi. Lumayan besar untuk mahasiswa kayak saya. Hehehe. (Curhat…)

Bersantai di Bungalow Pulau Kapoposang..

Saran untuk Pulau “Seribu Kelapa”

Peningkatan fasilitas pulau untuk menunjang pariwisata sudah seharusnya dilakukan. Misalnya informasi yang memadai tentang Kapoposang seperti di website ini. Selain itu, info dalam bahasa inggris tentang Kapoposang sangat sedikit. Padahal wisatawan mancanegara senang dengan wisata bahari.

Mengoptimalkan penduduk dalam membantu perekonomian daerah tersebut. Misalnya memberikan pelatihan tentang diversifikasi penggunaan sumber daya alam di pulau Kapoposang. Seperti di PPLH Puntondo yang memberikan pelatihan diversifikasi penggunaan rumput laut sebagai kerupuk dan dodol. Sehingga harga jual semakin tinggi.

Bisa saja kan, buah kelapa yang banyak itu dibuat menjadi Nata de Coco dan bisa dijual. Harganya pasti lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual dalam bentuk kelapa utuh.
Jadi, sampai kapan harus menunggu melihat “surga bawah laut” di Kapoposang? Sepotong keindahan yang diberikan Tuhan di bumi Sulawesi Selatan. :D

*catatan perjalanan ini dibuat untuk ikut Lomba Blog Konten Blog Bertema: “Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan

Come and See Kapoposang at South Sulawesi..

Pasir Putihh.. yipppeee...

 

*catatan perjalanan ini dibuat untuk ikut Lomba Blog Konten Blog Bertema: “Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan”

Come and See Kapoposang at South Sulawesi..

No Complaint Week, Season 1. Success…

tanggal 13 Maret 2012, menjadi salah satu hari yang ber-sejarah buat gue. Entah kenapa, ketika gue lagi buka twitter gue (follow @adliencoolz. hehehe..). terus tiba-tiba nemu sebuah tweet mengajak untuk tidak komplain selama seminggu. aneh juga ajakannya, akhirnya gue penasaran dan meluncurlah gue ke TKP (https://henrymanampiring.wordpress.com/2011/02/20/tentang-mengeluh-refleksi-nocomplaintweek/) akhirnya mengertilah gue. jadi, si empu blog, mas Henry mau mengajak kita semua untuk tidak mengeluh selama seminggu.

waaa, pertama baca blognya gue jadi ketawa-ketawa sendiri. gue dikenal paling senang mengeluh. aktivitas gue yang sangat menyita waktu sebagai jurnalis kampus, penyelam dan mahasiswa tingkat akhir membuat gue sering mengeluh. entah karena tugas dari dosen killer  yang tertumpuk selama selama seminggu. atau tugas liputan yang sudah memasuki masa deadline..

parah… tugas-tugas yang sering gue tumpuk akhirnya membuat otak tegang dan membuat gue suka mengucap kata-kata yang ga pantas. ckckckc. kalau inget, jadi pengen istigfar..biasanya kalau uda stress gag ketulungan gue bakalan pergi nyelem ke pulau atau travelling.

tapi kan nyelam atau travelling ga bisa dilakukan setiap hari, jadi gue berpikir untuk mencoba mengurangi keluhan gue. Apalagi setelah baca blog Mas Henry yang bilang kayak gini,” yang gw targetkan adalah keluhan yang berlebihan, yang tidak perlu, yang tidak membawa perubahan, atau keluhan tentang hal-hal remeh/sepele. Semua ini toh tidak membawa apa-apa, selain menghabiskan energi, memperburuk mood, dan menyebalkan orang sekitar. #NoComplaintWeek bertujuan sebagai “detoks” mental, dan juga melatih kita melawan tendensi mengeluh yang tidak perlu.“.  hmmmm. bener juga ya…

setiap kali kalau gue teriak-teriak ngacak-ngacak rambut, bukannya malah tenang tapi malah tambah kepusingan gue. kalau bener-bener uda ga tahan, gue akan lari-lari dan ngamuk sendirian. hahaha. kacauu..

nah, selama seminggu yang lalu gue lakuin #NoComplaintWeek. hasilnya gue selalu istigfar kalau dapat suatu masalah. ketika kita tidak mengeluh, kita akan membawa perubahan yang baik. ini contoh kejadiannya :

1.gue beli pulsa Sm*rtfren untuk modem gue sebesar 50 ribu. terus gue mesen paket untuk sebulan. pas gue nyoba searching sekitar 30 menit, tiba-tiba pulsa gue ud habis.. ckckcck. gue ingat masih dalam masa #NCW. akhirnya gue cuman ngelus dada sambil ngucap istigfar. eh, tiba-tiba junior gue datang dan bilang kalau dia punya utang 50 ribu hasil penjualan masker. waaahh, alhamdulillah.. diganti dengan yang lebih baik.

2. gue pernah ngejualin tiket seminar Merry Riana sama 10 orang temen gue, jadi dapet gratisan 1 tiket. nah, temen gue yang nyimpen tiket ini. pas lagi di suatu acara, si temen gue ini udah ngasih 8 lembar tiket. gue nyadar atau tidak, pas di rumah, tiket gue itung dan cuman 7 lembar. gue ud berpikir hilang. dan gue uda mengikhlaskan tiket itu. belajar dari cerita pertama.. ternyata teman gue masih simpen tiket gue.. alhamdulillah..

sebenernya masih banyak kejadian ketika gue mencoba ambil sisi positif dari setiap musibah yang menimpa gue. dan yang paling penting adalah tidak mengumpat atau mengeluh dalam setiap kejadian. insyAllah mau melanjutkan untuk mnjadi orang yang nocomplaint. tapi complaint kepada negara karena negeri Indonesia yang tambah kacau balau, masih bisa kan?? hehehe..

thanks buat idenya.. :D

Ketika Wakil Rakyat Terjangkit Korupsi

Gila.. mungkin itu kata yang bisa gue teriakkan di tengah ketidakpastian sebagai warga negara. ckckckc. Negeri ini benar-benar zhalim terhadap warganya.

Belum lama kita mendengar kasus korupsi yang mulai terungkap. Uang triliyunan yang seharusnya untuk rakyat malah dinikmati oleh segelintir golongan yang bernama “wakil rakyat”.

Kasus korupsi semakin merajelela. Baru-baru kita dikejutkan kembali oleh rekening gendut beberapa PNS. Gaji yang ia terima setiap bulan tak sebesar uang yang ia miliki di kantor. 26 orang PNS yang mempunyai rekening gendut sekarang masih diperjelas sumber dana yang ia miliki.

Ckckckc. Masya Allah.

Nah, sekarang yang paling parah adalah kenaikan harga BBM yang melonjak. Dari Rp. 4500 akan menjadi Rp 6000. Mungkin bagi kalangan berduit tidak akan terlalu merasakan dampaknya. Menurut prediksi, angka kemiskinan akan naik menjadi 12,05 persen. Gila benerrrr..

Bayangkan aja, prosentase kemiskinan paling banyak adalah di wilayah pesisir. BBM naik otomatis akan diikuti oleh kenaikan harga sandang, pangan dan papan. Sudah harga solar semakin mahal, bagaimana mereka menangkap ikan? Gimana dengan mata pencaharian mereka yang tak menentu. Laut yang mulai tak bersahabat dan ikan yang berkurang akan membuat para nelayan akan menjadi semakin miskin. Dan pertanyaan terakhir bagaimana mereka menjalani hidup???

Pernah ga ya para wakil rakyat itu memikirkan keadaan masyarakat menengah ke bawah di luar sana? Orang-orang yang menggigil kedinginan ketika hujan dan mengipas tangan ketika panas. Tapi mereka yang dipilih melalui suara rakyat malah diam dan menikmati hasil keringat rakyat.

Laknatullah.. semoga Allah SWT membalas keburukan mereka…

Tak bisa dipungkiri, kezhaliman di negeri ini sudah seperti hal lumrah. Wakil rakyat mengambil hak milik rakyatnya. Proyek yang setengah jadi sehingga menimbulkan kecelakaan, mengambil uang rakyat miskin misalnya Bantuan Langsung Tunai (BLT), menjual beras miskin (Raskin) untuk konsumsi pribadi. Masya Allah.

Wajarlah ketika Allah SWT menurunkan bencana di negara ini. Puting beliung, banjir rob, abrasi pantai, gunung meletus, banjir bandang, gempa, tsunami, dan lain-lain. mungkin sudah saatnya wakil rakyat dan kita semua menghindari korupsi sejak dini.

Mulailah jujur dengan semua perbuatan kita..

InsyaAllah kita akan menjadi pribadi sukses dan mensukseskan negara. amien ya rabbal alamin…

 

(tulisan ini muncul ketika saya sudah terlalu LELAH mendengar kasus korupsi di bumi pertiwi, Indonesia)

22 Maret 2012..

 

 

Rencana Ransel Tahun 2012

alhamdulillah, satu kata dulu sebelum gue bicara banyak. hehehe.

awalnya liat promosi pesawat Citilink yang mengobral kursi dengan harga miring banget yaitu 79 ribu utnuk beberapa destinasi. Saat itu, gue dan Anggi lagi mengerjakan tugas Pengantar Ilmu Ekonomi (PIE) untuk membuat kliping koran mengenai Ekonomi. Saya pun langsung mengutarakan niat untuk berjalan-jalan ke kampung halaman Anggi di Medan. hmmm. kapan lagi bisa jalan-jalan murah ke Sumatera. hehehe.

akhirnya saya pun mengatur rencana perjalanan layaknya seorang traveller yang sudah sangat berpengalaman. hehehe, Saya pun mengumpulkan nama yang ingin ikut berjalan-jalan ke Sumatera. Dari satu angkatan yang saya ajak, hanya tiga orang yang mengiyakan.

Akhirnya empat nama terpilih, Adlien, Anggi, Arif dan Anti. hehehe. Kwartet A. sekarang ini saya sedang membuat jadwal perjalanan ke medan dengan budget yang sangat rendah. :D

Alhamdulillah, dapat juga ke Medan dengan harga miring. 1 juta untuk ke Medan udah tiket pesawat pulang pergi. mantapp. :D

ini rencana perjalanan gue

Ujung Pandang – Surabaya  naik Citilink seharga 79 ribu

Surabaya – Medan naik Airasia seharga 454 ribu

Medan – Jakarta naik Lion Air seharga 444 ribu

Surabaya – Ujung Pandang naik Citilink seharga 79 ribu

murahhh kan? hehehee,

ternyata asik ya merencanakan perjalanan jauh-jauh hari ini. Insya Allah bisa pergi.. :D

Wisata Kota Makassar #2

kan kemarin gue pernah mem-posting tulisan tentang Wisata Kota Makassar #1. nah, sekarang gue mau nyoba posting tentang wisata kota yang belum gue sempet tulis kemarin. hehehe.

setelah yang gue meresensi tentang China Town, Benteng Fort Rotterdam, dan Gedung Harmonie de Societeit, sekarang gue mau meresensi tempat lain yang mungkin sangat jarang dikunjungi oleh orang. :)

1. Makam Raja-raja Tallo

Makassar berkembang dari sebuah wilayah kecil bernama Tallo. Di wilayah inilah jasad para pendiri Makassar terbaring. Jika ingin mencoba untuk menapak tilas dan memahami arti penting Makassar dalam sejarah peradaban nusantara, datanglah ke daerah Tallo. Jikalau bukan karena karena keberadaan komplek makam tersebut, mungkin orang tidak akan tahu bahwa di wilayah tersebut pernah berdiri kota raja-raja, cikal bakal Kota Makassar. Berada di muara Sungai Tallo, tempat bertemunya sungai besar itu dengan Selat Makassar.

Akses untuk ke Makam Raja-raja Tallo, lumayan mudah, karena terletak di dekat pintu nol (ramp) Tallo Jl Tol IR Sutami dan Jl Tol Pelabuhan. biaya masuk pun tak ada, cuman kotak amal di depan pintu masuk. isilah walau hanya seribu, demi ikut merawat kelestarian situs tersebut. hehehe

2. Benteng Somba Opu

situs ini pernah sangat terkenal karena ada permasalahan yang menyangkut keberlangsungan situs ini. Pada akhir tahun 2010, BSO sempat ramai dikabarkan di media karena adanya perubahan alih fungsi lahan. Yang awalnya menjadi situs sejarah, akan berubah menjadi tempat rekreasi berupa kolam renang. hhhh. dasar..

tapi, karena banyak penolakan dari berbagai pihak, akhirnya pembangunan terhenti. hingga sekarang kita masih bisa melihat sedikit bagian dari BSO. disini pernah berdiri sebuah benteng yang tak bisa ditaklukkan oleh bangsa penjajah. disini pula Makassar dikenal sebagai bangsa maritim yang sangat kuat pada masa-masa tersebut. hhh. kalau gue jabarin satu-satu bakalan panjang ceritanya. hehehe. pokoknya keren banget deh..

sekarang kita bisa melihat rumah-rumah tradisional seluruh Sulawesi Selatan, jadi kayak berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). bisa foto-foto dan narsis sedikit lah. hehehe

3. Desa Wisata Lakkang

nah, ini daerah yang masih jarang diketahui oleh banyak orang. sebuah destinasi wisata yang masih tergolong sangat baru. disahkan pada tahun lalu untuk dijadikan sebagai desa wisata. Desa ini terletak di delta sungai Tallo. untuk menuju kesana kita butuh naik perahu yang ada di belakang Desa Kera-kera. dengan biaya 3 ribu kita pun bisa ikut mengangkut sepeda atau motor naik ke kapal.

kalau saya menyarankan untuk naik sepeda kesana, biar enak muter2 seisi desa. hehee. Yang menjadi andalan di desa ini adalah bunker bekas peninggalan Jepang. ada empat bunker yang masih bisa dilihat oleh wisatawan.

bunkernya udah ketutup tanah (tapi emang dibangun di bawah tanah sii, namany juga bunker.). tapi masih bisa dimasukkin lah. gelap didalamnya. dingin. kayak ada aura yang aneh-aneh.. (hallahh. kok jadi ngelantur.. )

tapi lumayan lah untuk mencoba “bernostalgia” ketika zaman penjajahan. hehehe.

Oke, segitu aja dulu tempat wisata kota yang gue rekomendasikan untuk dikunjungi kalau kamu datang ke Makassar. Nice Place and Nice Person. hehehe.

Have Fun at Kota Daeng,, Gag lengkap ke Kota Makassar tanpa nyoba wisata kotanya..

:D

Ayo Urus Paspor #2

Mau sharing sedikit tentang cara pembuatan paspor. postingan yang pertama itu cuman pancingan, nah yang sekarang adalah pengalaman pribadi dalam pengurusan paspor.

Mungkin aja bisa berguna buat temen2 yang mau berpergian ke luar negeri atau urus beasiswa. :D
gue ngurus paspor di Kantor Imigrasi Makassar, letaknya di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 dekat Daya. Kalau dari arah Unhas, kamu bisa turun di dekat Kampus UKIP Makassar. :D

Hari Pertama ke Kantor Imigrasi

Pertama-tama, sebelum kamu berangkat ke Kantor Imigrasi, udah harus mempersiapkan dokumen yang diperlukan, yaitu :

1. Foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), jangan dipotong jadi kecil.

2. Foto kopi Akte Kelahiran atau Ijazah terakhir

3. Foto kopi Kartu Keluarga (KK) kamu harus beli formulir pendaftaran

Dokumen diatas wajib dibawa pas kamu mau urus paspor. Sebenernya ada acara online untuk urus paspor, kamu tinggal upload dokumen diatas di website Imigrasi. Ikutin cara-caranya dan pilih hari kamu akan datang ke kantor Imigrasi terdekat dengan domisili kamu saat ini.

Nah, kalau kamu lewat cara manual dengan datang ke Kantor Imigrasi, kamu harus beli formulir pendaftaran dulu. Kalau di Kantor Imigrasi harganya 20 ribu, padahal disitu tertulis “tidak dipungut biaya”. Hmm. :P

Terus kamu isi formulir dan sertakan dokumen yang diminta. Langsung deh ke bagian informasi untuk mengambil nomor antrian.

Setelah itu nunggu nomor kamu dipanggil, setelah dipanggil, datang ke loket yang disebutkan oleh komputer.

Nanti kamu ditanya-tanya sedikit sama petugas untuk apa kamu membuat paspor tersebut. Setelah itu kamu pulang deh. Datang lagi pada hari yang disebutkan oleh petugas dan dituliskan di lembar warna kuning.

Hari Kedua ke Kantor Imigrasi

Biasanya setelah kamu memberikan dokumen dan formulir, kamu akan menunggu sekitar 4 hari untuk pengurusan berikutnya. Pada kali ini, kamu meminta dokumen kamu pada loket yang telah disediakan. Serahkan kertas kuning yang diberikan pada hari pertama.

Setelah mendapatkan dokumen kamu, langsung ke bagian informasi untuk mendapatkan nomor antrian sesi foto dan wawancara. Tapi sebelumnya, kamu harus membayar dulu di loket yang disebutkan oleh nomor antrian.

Untuk biaya paspor di Kantor Imigrasi Makassar 255 ribu sebanyak 48 halaman. Siapkan uang pas, biar pengurusannya lebih cepat. J

Setelah itu tunggu hingga nomor antrian kamu dipanggil untuk melakukan sesi wawancara dan foto wajah.

Pada sesi wawancara ini, kamu tinggal bilang apa tujuan kamu membuat paspor, kemana negara yang dituju, dll sebagainya. Setelah itu kamu tinggal foto deh.

Hari kedua selesai, tinggal mengambil paspor pada hari yang dituliskan pada kertas kuning. J

Hari ketiga di Kantor Imigrasi

Nah, biasanya pengambilan paspor dilakukan pada jam 2 siang. Jadi, kalau udah mau ambil paspor mending datangnya siang aja. :D

Caranya kamu serahin kertas kuning yang kemarin dan tunggu hingga nama kamu dipanggil. Selesai deh ngurus paspornya. Tinggal persiapan untuk buat visa. Eheheh. J

Semangdh!!