catatan perjalan ke Ramma

Dengan tema “Aku, Kamu dan Kekerabatan”, saya, 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Politik, dan seorang mahasiswa Pertanian Unhas “mendaki” ke Ramma. Sebuah lembah yang terletak di kaki gunung Bawakaraeng. Perjalanan yang harus ditempuh sekitar 6 jam dari desa Lembana, Kel. Pattapang, Kec. Tinggimoncong. Pendakian dimulai hari Jum’at dan diakhiri pada hari Senin (9-12/07).
Hari ke-1
Perjalanan kami mulai dari depan Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) dengan membaca do’a. Team pun terpisah menjadi dua kelompok, ada yang naik angkutan umum dan motor. Saya termasuk dalam kelompok angkutan umum. Kami menaiki angkot 07 untuk menuju jl. Alaudin, lalu diteruskan dengan angkot warna merah menuju Malino, Gowa. Ketika di pasar, kami pun naik angkot yang menuju desa Lembana. Waktu yang ditempuh untuk menuju Lembana sekitar 3 jam. Kami tiba di rumah penduduk sekitar pukul 22.00 wita.
Desa Lembana berada di ketinggian 2800 dpl, jadi bisa dibayangkan dinginnya daerah tersebut. Saya terus merasa kedinginan, bahkan menggigil ketika hujan turun membasahi bumi Malino. Kami menginap di rumah seorang penolong bernama Tata’ Rasyid. Tata’ adalah panggilan untuk Bapak bagi kaum adam yang sudah berumur. Beliau bisa dibilang adalah penolong para pendaki yang akan menaiki Gunung Bawakaraeng, jadi setiap pendaki pasti tidak asing dengan Tata’ Rasyid.
Hari ke-2

aktifitas pagi hari di desa Lembana

Ketika pagi hari, keindahan Gunung Bawakaraeng mulai terlihat dari tempat saya menginap. Karena terletak di kaki gunung, desa ini memiliki tekstur tanah yang subur. Hal ini sangat menguntungkan bagi warga yang menjadi petani. Komoditas utama disini adalah kol, daun bawang, kentang, tomat, dan jagung. Menurut cerita penduduk, dulu desa ini mengonsumsi nasi jagung. Jadi setiap pagi akan terdengar suara alu’ yang dihasilkan dari ibu-ibu yang menumbuk jagung di depan rumah. Tapi, tradisi itu telah hilang seiring warga lebih suka mengonsumsi nasi putih sebagai makanan utama.
Perjalanan dimulai dengan do’a. Team mulai melakukan pendakian sekitar pukul 08.00 wita. Perjalanan awal yang kami temui masih jalan setapak yang tidak terjal. Tapi, lama-kelamaan jalanan terus menanjak. Banyak pohon pinus dan pakis kami temui selama perjalanan. Karena track jalanan yang semakin sulit, kami pun sepakat untuk beristirahat sejenak. Menu sarapan kali ini adalah mie rebus dan sarden. Lumayan untuk mengganjal perut yang sudah minta diisi. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan.
Semakin keatas, hutan semakin rimbun. Pohon-pohon tumbuh sangat rapat, sehingga tanah menjadi basah tak terkena sinar matahari. Kami pun berhenti lagi di sungai 3 untuk makan siang. entah kenapa, mungkin karena udara dingin dan jalanan yang dilalui membuat kami semua cepat merasa lapar. Untuk minum, kami tinggal mengambil dari sungai. Tanpa perlu dimasak terlebih dahulu dan seperti minum air dari kulkas.
Akhirnya kami sampai di puncak Tallung. Ini seperti pintu gerbang menuju Lembah Ramma. Dari atas sini bisa dilihat dengan jelas keindahan Gunung Bawakaraeng dan juga bekas longsorannya. disini juga terdapat monumen makam seorang anak pecinta alam STIEM yang wafat tahun 2004. Menurut catatan disini Abd. Rahman menghilang mulai dari tanggal 10-18 Oktober.

panorama alam dari Tallung

istirahat sejenak di Puncak Tallung

Ternyata perjalanan menuju Ramma dari puncak Tallung lebih sulit dari track yang sebelumnya. Jarak antara satu anak tangga dan yang lainnya sangat tinggi. Dan akhirnya kami pun sampai di lembah sekitar pukul 16.30 wita. Setelah mencari tempat datar, kami pun segera membangun tenda. Karena lelah, aku pun langsung tertidur.
Hari ke-3

di rumah Tata‘ Mandong
Pagi hari cuaca dingin menguasai saya, tapi saya coba hilangkan dengan menggunakan jaket tebal. Lalu, kami pergi kerumah satu-satunya penduduk di lembah ini. Tata’ Mandong namanya. Beliau sudah sangat renta, tapi ia tak pernah tahu kapan tahun lahirnya. Ia sudah lebih dari 20 tahun hidup mendedikasikan dirinya untuk lingkungan. Setelah longsor menerjang rumahnya di dekat Gunung Bawakaraeng pada tahun 2004, ia sekarang menetap di lembah ini. Membangun rumah seadanya, dengan kayu dan tambalan jaket hujan untuk menahan angin. Menurut beliau, Gunung Bawakaraeng adalah titik tengah dunia. Jika Gunung Bawakaraeng rusak maka seluruh dunia juga akan rusak, karena itulah ia terus mencoba menjaga kelestarian lingkungan disini. Semangat beliau dalam menjaga kelestarian lingkungan patut kita teladani. Karena kelestarian dan keseimbangan alam bisa rusak jika kita tak menjaganya.
Setelah berbicara dan pamit dengan Tata’ Mandong, aku pun sempat hunting foto di sekitar lembah. Daerah ini dikelilingi oleh bukit yang ditumbuhi rumput. Sehingga banyak sapi penduduk yang mencari makan disini. Tanah disini juga sangat lembut dan berair. Karena sungai-sungai kecil mengaliri lembah ini.

narsis mode ON

Karena lapar sudah menyerang, kami pun segera menyiapkan makan pagi sekaligus makan siang. kali ini menunya mie dan sosis. Setelah makan, kami pun sempat bertukar cerita. Sampai akhirnya dua anak Komunikasi harus pergi meninggalkan kami. Acho dan Ifzan tak ingin melewatkan serunya pertandingan final Piala Dunia antara Spanyol dan Belanda yang akan bertanding malam ini.
Untuk membunuh rasa bosan, kami menuju danau. Disana terdapat beberapa ekor ikan mas. Kami pun menyiapkan tombak untuk menangkap mereka. Tapi, setelah menunggu berapa lama ikan tersebut seakan tak mau berkompromi. Kami pun gagal mendapatkan makan malam dengan ikan mas bakar.
Malam menjelang, kami menyantap makan malam dengan menu sosis goreng dan ikan kering. Habis bersantap malam, satu persatu peserta memasuki tenda. Karena menurut mereka, malam ini sangat dingin. Berbeda denganku yang mulai terbiasa dengan cuaca dan tidak menggunakan jaket malam ini. Aku berbagi kisah dengan Kak Aldi dan Rizky sambil memandangi bintang. Malam ini bintang bersinar sangat cerah. Tapi, lama-kelamaan mulai tertutup oleh awan tebal. Setelah shalat, aku pun langsung menuju pembaringan.
Hari ke -4
Pagi ini kami menyiapkan teh hangat dan biskuit sebelum sarapan. Setelah semua peserta bangun, baru kami memulai sarapan. Menu kali ini mie, ikan kering dan sarden. Semakin hari, makanan semakin enak. Berbeda dengan hari awal yang selalu makan mie dan nasi.
Setelah itu, kami pun mulai siap-siap untuk pulang menuju Makassar. Setelah tenda dilipat, kami berdo’a untuk keselamatan perjalanan. Sehabis itu, kami pun melakukan bersih-bersih disekitar Ramma. Lalu, perjalanan pulang pun dimulai.

photo-photo bersama Tata’ Mandong sebelum pulang.

Track pertama yang dilalui sangat sulit untuk mencapai puncak Tallung. Beberapa kali, saya sempat tersandung dan nyaris jatuh. Setelah satu jam, kami pun sampai di puncak Tallung. Kami sempat beristirahat sejenak. lalu, perjalanan dilanjutkan.
Setelah melewati Tallung, jalur menuju Lembana terasa mudah. Karena tidak terlalu curam seperti menuju Tallung. Tapi, tetap saja kami harus tetap waspada. Dan di sungai 3 kami pun beristirahat untuk makan siang. menu kali ini terdiri dari sosis goreng, mie rebus, sarden, dan ikan kering. Benar-benar nikmat apalagi setelah capek berjalan.
Mulai dari sungai tiga, perjalanan kurasa mudah. Saya mulai bernyanyi-nyanyi karena merasa desa Lembana sudah dekat. Dan akhirnya, sekitar pukul 15.00 wita kami tiba di desa Lembana. Saya pun langsung menuju sumber air terdekat untuk mandi. Lalu, kami pun pulang menuju Makassar. Sebuah perjalanan menuju alam yang tak akan pernah terlupakan.

4 thoughts on “catatan perjalan ke Ramma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s