kurangnya KRL Ekonomi susahkan masyarakat

waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. banyak orang lalu-lalang di Stasiun Bojong Gede. cuaca di daerah ini mulai tak bersahabat, pagi panas, sore hujan lebat. karena tak dapat tempat duduk, saya pun berdiri di peron menuju Jakarta. rencananya hari ini, saya akan pergi menemui senior saya di bilangan Cilandak. saya janji bertemu dengan beliau pukul 13.00 WIB.

tapi, apa daya. ketika sudah menunggu hampir satu jam, saya mendengar suara petugas stasiun di pengeras suara. “untuk kereta menuju Jakarta Kota, masih menunggu rangkaian KRL dari Pondok Cina. karena tidak tersedia rangkaian KRL di stasiun Bogor”. oh, Tuhan, terima kasih…..

ketika sedang menunggu rangkaian dari Pondok Cina, saya menjadi berfikir. akhir-akhir ini saya merasakan adanya perbedaan untuk KRL ekonomi, ketika saya masih SMA dulu dan ketika saya kuliah. dulu ketika SMA, KRL Ekonomi sekitar jam 10 yang ke arah Jakarta akan mulai berkurang kepadatannya. tapi, yang saya lihat saat ini, masih banyak orang yang berjubel di stasiun. padahal jam masuk kantor sudah sangat lewat, bisa dibilang sangat terlambat.

akhirnya setelah menunggu sekitar 30 menit,KRL menuju Bogor sudah datang. ketika saya melihatnya, saya jadi ngeri. semua orang nublek jadi satu. semua memaksakan masuk ke dalam gerbong. padahal yang di dalam sudah sangat berdempetan, tapi mau apa lagi, sesama orang yang membutuhkan memang tidak boleh egois. aku pun rela, harus terinjak-injak dan terdorong-dorong. penderitaanku baru dimulai ketika kereta berjalan.

selama dalam perjalanan, aku banyak melihat ketimpangan. ada anak muda yang sehat berebutan tempat duduk dengan seorang kakek tua. karena kecepatan yang lebih gesit, akhirnya anak muda itu yang dapat tempat duduk. tapi, di lain tempat duduk aku juga melihat seorang kakek yang bersedia memberikan tempat duduknya untuk seorang anak muda yang pingsan karena kelelahan. hidup itu memang seimbang ya??

di dalam kereta, aku dapat pesan dari seorang teman yang mewanti-wanti ku untuk berhati-hati. lalu, aku mulai menyinggung, kenapa pemerintah tidak peka terhadap masalah transportasi yang seperti ini. manusia di pepetkan dalam satu gerbong. entah apa yang ada di dalam pikiran pejabat -pejabat itu. mereka menambahkan armada untuk KRL Ekonomi AC, tapi tidak berfikir siapa yang akan jadi penggunanya. masih banyak masyarakat menengah ke bawah yang akan berfikir ulang untuk menggunakan Ekonomi AC dan lebih memilih untuk menggunakan KRL Ekonomi. bayangkan saja, hanya dengan Rp. 2500 maka sudah bisa pergi dari Jakarta ke Bogor maupun sebaliknya.tapi, saya pernah baca di suatu artikel, KRL Ekonomi akan ditiadakan. jika hal itu benar terjadi, maka gerbong KRL EKonomi AC akan berubah kembali menjadi KRL Ekonomi biasa.

pemerintah seharusnya mengingat bahwa suatu kota yang baik dapat ditandai, antara lain dengan melihat kondisi transportasinya. Transportasi yang baik, aman, dan lancar selain mencerminkan keteraturan kota, juga memperlihatkan kelancaran kegiatan perekonomian kota. transportasi jangan dianggapa sepele atau malah disepelekan.

ini tugas pemerintah untuk memikirkan perencanaan yang lebih baik terhadap jalur transportasi. dan kita sebagai masyarakat ikut menjaga apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk kebaikan kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s