siang itu, sambil bercucuran keringat (25/06). aku jalan kaki menuju mantan sekolah tercinta, SMAN 1 Bojonggede, sekarang berganti nama menjadi SMAN 1 Tajurhalang. Sekolah yang notabene berada agak jauh dari keramaian. disampingnya terdapat beberapa rumah penduduk. pintu gerbangnya belum dicat kembali sejak dua tahun yang lalu. Ada pos jaga di belakang pintu masuknya. dijaga oleh seorang bapak-bapak yang kami panggil Babe. hhaa.aku ingatkeetika sehabiss pulang sekolah sembari menunggu teman-teman yang belum keluar kelas, sering menumpang nonton TV di pos jaga itu.
hari ini, aku bersama Firman mencoba mengulang kembali semua kenangan itu. kami berdua mulai dri tempat parkir. ditempat parkir, dulu kami sering bercanda disini sebelum pulang ke rumah masing-masing. tertawa sambil mengambil motor di tempat parkir. terkadang, aku menumpang dengan banyak temaan. entah itu diantar sampai rumah atau hanya sampai di tempat tertentu. benar-benar muka tebengan. hhaa. masuk lebih dalam lagi, aku menemukan kejanggalan. sebuah ruangan yang dulu kami pakai untuk konsultasi bersama guru di sekolah, sekarang berubah menjadi perpustakaan. padahal dulu, di ruangan yang bercat hijau ini, aku sering dipanggil atau memang datang untuk bertanya kepada guru. sekarang, ruang guru di tempatkan di bekas kelas X. mengambil tiga ruangan. jadi, sngat luas. kami bertemu dengan Pak Agus (mantan guru Sejarah) , Bu Nell (mantan guru Kimia), Pak Bud (mantan guru Fisika), dll. hha. bener2 deh. sempat juga diberikan nasihat sama Bu Nell, makasih yang bunda. sehabis itu, kami berdua menuju lapangan. ada Pak Ahmad yang sedang mengajar baskeet. beliau langssung bertanya “firman, kamu mau main basket??” hha. kami berdua pun tertawa. yang aneh, adalah pak Nurkholif sekarang mengajar olahraga. seingat kami, beliau dulu pengajar agama islam. hha. alih profesi ajaran. hha.
kami pun menuju kantin. tempat kami dulu suka bercanda. kantin kami dulu, masih dilapisi tanah merah. jadi, bisa dibayangkan ketikaa setelah hujan, maka kantin akan sangat becek. tanah yang lembut, menempel di bawah sepatu. setiap istiraahat, maka aku akan langsung menyerbu kantin. mencari nasi udduk dan sepotong gorengan. dengan harga 2500, maka perut yang keroncongan akan segera terisi. hha. kalau haus maka, langsung berdesakan dengan yang lain di warung Bu Dellis. dengan uang seribu, maka segelas energen akan menghangatkaan perut. hha. tapi, kenangan itu sudah hilang semua. sekarang, lantai kaantin berubah menjadi keramik. tak ada cerita sepatu menjadi kotor. penjual disini pun sudah berbeda, kecuali Bu Dellis, beliau masih setia menyediakan jajanan bagi anak-anak SMA ini. tapi, sekarang sudah ditambh dua pegawai yang membantu beliau. tak ada lagi Ucay, yang dulu jadi tempat tongkrongan anak-anak ketika jam istirahat. tak ada lagi Abah yang jualan bakso. taak ada lagi Umi yang berjualan di pojokan.
kami pun, mencoba merajut kembali kenangan-kenangan itu. ketika kami berdesakan di warung bu Dellis. ketika kami ngobrol tentang hari itu. tentang PR Matematika yang diajaar oleh Pak Pandi. tentang Anggi yang cantik. tentang kelas yang terobsesi menang kelas terbersih. tentang murid baru yang menarik perhatian ku. tentang Udin yang kukasih sabun jerawat. tentang kisah Tedha dan Tepu. tentang mereka, tentang kita, tentang semuanya.
saat itu, kami pun berjalan di depan XI Exact 2. kami mencoba mengingat kembaali. kelas yang notabene berisi perusuh semua. jika aku sebut satu-satu maka tidak akan cukup untuk mendeskripssikan “kenakalan” mereka masing-maasing. setiap anak-anak 11 ipa 2, memiliki keunikan masing-masing. pada awalnya aku benci masuk ke dalam kelas ini, karena terdapat musuh-musuhku yang ikut masuk ke dalam kelas ini. ada juga beberapa orang yang aku takuti. aku benci, tapi ketika aku jalani dan menjadi bagian dari kelas ini, aku merasa sangat BAHAGGIA. duduk di bangku paling depan bersama si kutu buku (Griya). benar-benar waktu yang sangat menyenangkan. hari-hari ku di Exact 2 tak akan pernah terlupakan.
akhirnya satu tahun berlalu, kami pun harus berpisah. tapi, kami semua sepakat untuk meminta menjadi satu kelas kembali. kami pun ber-negosiasi dengan guru untuk mewujudkan hal itu. tapi, apa daya. kami dipisahkan.
setelah itu, aku masuk ke dalam XII Exact 3. aku duduk di tempat duduk paling belakang bersama org ngocol (om tsabit). hari ini menncoba mengingat keetika aku berada di kelas tersebut. lumayan seru. hha. memang tidak ada masa yang indah selain masa SMA.
alhamdulillah, saya lulus SMA dan melanjutkan di Unhas. hha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s