karakteristik Pulau Bauluang

Sabtu-Minggu, (6-7/11) mahasiswa Ilmu Kelautan mengadakan praktek lapang sedimentologi. Praktek lapang kali ini dilakukan di Pulau Bauluang, kec. Tana Keke, Kab. Takalar. Titik awal perjalanan kami di mulai dari pelabuhan Kayu Bangkoa, Makassar. Dengan menggunakan kapal Hj. Dahrin, perjalanan ke Pulau Bauluang membutuhkan waktu 3 jam melalui laut. Perjalanan yang cukup melelahkan, ada beberapa anak yang mabuk laut. Hmmm… saya juga merasakan mual karena kapal terkena ombak. Akhirnya pulau sudah berada di depan mata, tapi ada hambatan lagi. Kami harus menaiki Jolloro’ dikarenakan pesisir pantai yang landai. Sehingga kapal besar tidak bisa langsung merapat di pantai. Alhamdulillah, kami pun sampai di pulau Bauluang. Tanpa membuang waktu, kami pun berfoto-foto ria.

Tak lama, kami pun langsung melakukan praktek sedimen. Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Seperti mengambil sampel pasir di daerah pesisir. Saya tak luput untuk mewawancarai penduduk di desa ini. Ada seorang Ibu yang bekerja sebagai penjual kelapa dan pembuat cumi’ (arang). Sayu namanya, beliau memiliki dua anak. Dengan pendapatan rp 10.000 per hari, ia harus ikut menafkahi ayahnya yang tinggal di samping rumahnya. saat saya mewawancarainya, ia sedang menganyam daun kelapa untuk dijadikan pelapis atap rumah. Menurutnya, pelapis tersebut digunakan hanya pada musim hujan untuk melapisi atap rumah yang terbuat dari seng. “biasanya hanya setahun sekali kami disini menggunakan pelapis daun kelapa. Supaya air tidak masuk ke dalam rumah” tambahnya dalam logat Makassar.

Setelah puas berbincang dengan beliau, kami pun meninggalkan lokasi praktek. Tak lama setelah itu, saya, Sulaeman, Anto, Seno dan Uwha pergi mengelilingi pulau ini. Kami pun mengunjungi beberapa masyarakat pulau yang sedang membuat cumi’ (arang dari kayu mangrove). Komoditas utama di pulau ini adalah arang, rumput laut, dan ikan. Kami mewawancari salahh seorang penduduk yang sedang memotong kayu mangrove. namanya Daeng Nompo, beliau menjual arang tersebut ke Makassar dengan harga rp 35.000 per karung.

Pembuatan arang dimulai dengan pemotong kayu mangrove menjadi batang-batang kecil. Setelah itu batang-batang tersebut di susun rapi. Tak lama setelah itu, kayu tersebut di bakar dan ditimbun dengan rumput dan tanah. lalu, diamkan selama lima hari sampai api nya padam semua. Setelah didiamkan, arang-arang tersbut dimasukkan ke dalam karung yang selanjutnya akan dipasarkan ke Makassar.

foto-foto setelah adakan bakti sosial

Kami pun melanjutkan petualangan kami. Ternyata setelah ditelusuri, vegetasi di pulau ini sudah berubah. Ada bekas pematang sawah disini. Belum lagi kami menemui hewan-hewan ternak seperti sapi dan kerbau. Dugaan kami semakin kuat, karena ada banyak bekas rumput padi (rea. Bahasa Makassar).  Kami pun terus berjalan hingga akhirnya menemukan rawa yang ditumbuhi oleh mangrove jenis semak. Berbeda dengan mangrove yang berada di pantai, yaitu jenis Rhizopora sp. yang berbentuk pohon.

Selain pulau yang memiliki ragam vegetasi, pulau ini juga memiliki penduduk yang sangat ramah. Ketika kami sedang merasa kehausan pada siang hari, kami diberikan kelapa. Tanpa ba-bi-bu lagi, kami langsung menurunkan beberapa butir kelapa. Adhi sabang, salah seorang kawan yang jago memanjat, memetik banyak buah kelapa. Dua pohon kami tandaskan. Benar-benar kehausan..

Belum lagi wisata kuliner makanan laut disini. Seperti sotong, buah lamun, belut morray, bulu babi, dan lambis-lambis. Ini kali pertama saya mencicipi bulu babi dan belut morray. Menurut dosen kami, Pak Marzuki Ukkas, semua hewan di laut itu halal. “Cuma satu yang tidak bisa dimakan, yaitu Kapal Selam” ujar beliau, disambut gelegak tawa. Sehabis itu, kami pulang sore harinya.

Yang menjadi tak terlupakan pada perjalanan kali ini adalah saya diperbolehkan membawa kapal sampai Makassar. Akhirnya saya pun kursus singkat mengemudikan kapal. Saya mencoba membaca kompas dan membaca arah angin. Benar-benar pengalaman menarik. Akhirnya setelah satu jam kapal saya kemudikan, terdengar teriakan-teriakan dari lambung kapal. Bahwa saya telah membuat teman-teman mabuk laut. Hha. Maaf…

berfoto bersama di Bauluang

 

ada masukan dari seorang kawan untuk memasukkan hasil-hasil praktikum di lapangan. karena tak cukup, saya masukan kesimpulan dan saran aja ya… heheh

Berdasarkan praktek dan analisa laboratorium yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. 1. Bentuk dan ukuran material butiran pasir sedimen yang lolos pada saringan  kurang dari 0,063 mm rata-rata ± 1 gr setiap daerah pada pada analisis metode ayakan kering yang berbentuk silt (debu), clay (lempung) maupun dissolved material (material terlarut).
  2. 2. Nilai persen berat tertinggi kandungan bahan organik total yaitu pada sampel sedimen lapisan C yaitu sebesar 12,840%. Sementara untuk lapisan supratidal 80 cm, intertidal, dan subtidal, nilai persen kandungan bahan organik totalnya secara berturut-turut adalah 6,940%, 5,200%, dan 3,220%. Dari hasil analisa dapat ditarik kesimpulan bahwa suplai bahan organik yang terbesar berasal dari darat.
  3. 3. Nilai persen kandungan kapur (CaCO3) tertinggi terdapat pada lapisan supratidal 80 cm. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesuburan di daerah supratidal lebih baik dari lapisan C dan kawasan Intertidal.
  4. 4. Struktur endapan sedimen yang paling dominan adalah pasir. Hal ini dapat kita lihat dengan menggunakan segitiga tekstur.

2 thoughts on “karakteristik Pulau Bauluang

  1. Bagaimana hasil praktek lapang sedimentologinya…., bagaimana proses pengendapan di pulau ini…., di bagian2 mana saja dari pulau ini yang mengalami proses abrasi dan proses akresi….

    Dalam praktek tsb yg dilakukan dalam analisis sedimentologi, apa aja…??? misalnya analisa besar butir (granulometri)…

    Hasil praktek lapangan sedimentologi… sangat bagus di tampilkan di Blog ini…., agar dapat dinikmati oleh penggemar sedimentologi

    Sukses selalu di 2011 buat pengelola Blog ini
    Salam dari Tanah Seberang…

    • makasi uda comment,
      ^_^
      hasil analisa kami lakukan di dalam lab. sebenarnya ada hasilnya. tapi berhubung Flash Disk saya hilang, jadi belum sempat masukin hasil analisisnya. tapi, ntar saya masukin deh… hehehehe
      makasi atas sarannya.
      akan saya pertimbangkan di Post selanjutnya…
      ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s