Somba Opu, Polemik masih berlanjut

Tak semua menyadari bahwa ada masalah yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Berita yang kerap diusung oleh media lokal dan nasional. Laporan mengenai perubahan warisan budaya menjadi kawasan hiburan bertaraf internasional.

Sejarah mencatat, pada abad ke XVI daerah muara Sungai Bira (Sungai Tallo) hingga muara Sungai Jeneberang yang dipenuhi oleh para pedagang dari berbagai bandar niaga yang sebelumnya disebut Makassar. Itulah yang kemudian mendasari para pedagang menyebut bandar niaga Tallo dan Sombaopu dengan sebutan Bandar Makassar, dan tidak menyebut Tallo Makassar atau Sombaopu Makassar. Untuk melindungi kegiatan perdagangan di kota pelabuhan itu, pemerintah Kerajaan Makassar membangun sejumlah benteng pertahanan sepanjang pesisir dari yang paling utara Benteng Tallo hingga yang paling selatan Benteng Barombong. Dari kesemuanya, yang menjadi pusat adalah Benteng Somba Opu (selanjutnya disebut dengan BSO). BSO dibangun oleh Sultan Gowa ke-IX yang bernama Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna pada tahun 1525. BSO adalah benteng yang paling kuat dan terkenal. Bayangkan saja, secara arsitektural benteng ini berbentuk segi empat dengan luas total 1.500 hektar. Memanjang 2 kilometer dari barat ke timur. Ketinggian dinding benteng yang terlihat saat ini adalah 2 meter. Tetapi dulu, tinggi dinding sebenarnya adalah antara 7-8 meter dengan ketebalan 12 kaki atau 3,6 meter.

Hingga akhirnya pada tahun 1669, BSO dihancurkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Sultan Hasanuddin yang saat itu sedang menjabat harus menyingkir dari BSO. Setelah itu, BSO pun dihancurkan dan akhirnya hilang. Sampai pada tahun 1980-an, lebih dari 300 tahun setelah penghancurannya, Somba Opu menjadi buah bibir masyarakat Makassar. Dan berkat tangan dingin Prof Ahmad Amiruddin, BSO berhasil mendirikan kembali pusat historis kota termasyhur Sulawesi. Tapi, harapan dan cita-cita inisiator kawasan BSO harus pupus, karena lama kelamaan kawasan ini ditinggalkan oleh penghuninya. Hingga akhirnya kawasan BSO tersebut harus rela berganti menjadi daerah hiburan. Alasannya sangat klasik, karena benteng sudah tak diminati dan butuh revitalisasi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sul-Sel) berinisiatif untuk mencari investor yang bersedia bekerja sama dalam rencana renovasi. Akhirnya Pemprov Sulsel berhasil menggaet seorang investor dari PT Mira Megah Perkasa bernama Zainal Tayyeb. Rencana pembangunan kawasan hiburan, diberi nama Gowa Discovery Park (yang selanjutnya disebut GDP). Namun kemudian muncul pro dan kontra terkait pembangunan ini.

Tak pernah ada sosialisasi tentang pembangunan GDP, hanya sebuah papan bergambar rencana pembangunan GDP. Hingga sampai tanggal 18 Oktober 2010, media mencium pengesahan proyek ini. Peletakan batu pertama proyek GDP dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. Proyek yang bernilai Rp 30 miliar dinilai berpotensi merusak kawasan heritage (kebudayaan) BSO. Bayangkan saja, situs sejarah tersebut akan disulap menjadi waterboom (kolam air), taman gajah dan burung, dan restoran. Bukan hanya menghilangkan jejak-jejak sejarah di kawasan ini, tapi juga menghancurkan nilai-nilai budaya yang ada.

Rencana untuk mengubah situs terluncur dari mulut Gubernur Pemprov Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Beliau melihat kondisi BSO yang tidak terurus, sejak BSO dipindah tangankan ke Pemprov Sulsel. Sejarah mencatat, pada tahun 1989, Prof Amiruddin yang waktu itu menjabat Rektor Universitas Hassanudin prihatin melihat keadaan BSO yang sudah sangat tidak layak. Beliau yang pada waktu itu juga menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan, menggelontorkan uang ratusan juta rupiah untuk melakukan revitalisasi. Beliau meminta ahli, akademisi, arkeolog untuk melakukan rekonstruksi, rehabilitasi, konsolidasi dan restorasi situs BSO.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s