jalan-jalan ke Somba Opu

Hari ini, Senin (10/01), saya, Dinar, Mustafa dan Ka Chapunk mengunjungi Benteng Somba Opu. kawasan ini menjadi salah satu bangunan vital nasional. Kami pergi ke benteng somba opu untuk melihat dan mencoba mendeskripsikan keadaan benteng. Awalnya, saya dan dinar pergi kesana untuk berkunjung dan mencari tahu tentang proyek pembangunan Gowa Discovery Park.

peta kawasan BSO

Oia, kalian belum tau? Bahwa BSO akan dijadikan kawasan hiburan. Yang jadi perbincangan hangat kali ini adalah situs sejarah yang akan disulap menjadi kawasan hiburan. Hal ini memancing emosi para budayawan, sejarawan, arkeolog, akademisi, dan masyarakat. Bagaimana tidak, kawasan yang penuh sejarah, akan dirubah menjadi pusat hiburan hedonis di Sulawesi.

Hmmm. Gue gag mau menjelaskan terlalu banyak. Karena udah ada di tulisan saya sebelumnya. Lihat drama hukum somba opu kali ini saya akan menceritakan bagaimana hasil pengamatan yang ada di TKP. Hehhe

merasa dejavu dengan BSO. kayaknya gue reinkarnasi anak keberapa Sultan Hasanuddin deh...

Memasuki kawasan BSO,, saya sempat melihat pekerja yang sedang bekerja. Entah apa yang mereka bangun. Disamping-sampingnya ada kandang besi , menurut berita yang pernah saya baca, kandang tersebut akan digunakan sebagai kandang burung. Sebuah atraksi untuk menghibur para kaum hedon yang akan bertandang ke GDP.

Kembali ke isu awal. Kami berempat terus mencari situs yang tepat untuk diabadikan dalam foto. Kami pun berhenti di depan Museum Karaeng Pattilalongan. Sempat foto-foto di situs benteng. Puas dengan itu, kami pun mencoba bertanya dengan pegawai yang ada di museum.

Beruntung, kami bertemu dengan kepala UPTD BSO, Syafruddin Rahim. Kami bercerita banyak tentang sejarah Somba Opu. Kami pun banyak bertanya tentang proyek GDP ini. Bagaimana kelanjutan proyek ini, bagaimana keadaan warga, dan lain sebagainya.

Obrolan ringan pun terlempar. Mulai dari hal kecil, hingga hal-hal yang agak ‘menjurus’. Kami pun sempat berdebat mengenai keadaan pariwisata di daerah pesisir dan pulau.

Yang lucu, ketika ka Chapunk mengatakan bahwa ia tinggal di Bone. Tiba-tiba pak Rahim bertanya dimana ka Chapunk tinggal. Dan kau tau,, setelah berdiskusi panjang lebar,, akhirnya idketahui bahwa Pak Rahim dan Kak Chapunk adalah SEPUPU…. Hahahaha.. gokil.. same story like Ummul with Kadis Kebersihan.. hahahaha…

Habis ketawa-ketawa akhirnya time to Narsis udah tiba.. kita langsung menuju bagian benteng sebelah utara. Dan fotografer pun terus mengambil angle. Hehehe. Kita bertiga jadi model.. wah,, puas di foto lah..

Do you know what? Gue ngerasa dejavu ketika menyentuh benteng. Gag tau kenapa, gue kayak ngerasa hidup dizaman itu. Kayak ada gambaran meriam, pasukan, badik, dan lain sebagainya. Gambaran kekuatan Sultan Hasanuddin ‘terlihat’ jelas di dunia imaji ku. Deg-deg an abies ketika mencoba menghirup udara di sekitar sini.

Setelah itu, kami pun shalat maghrib. Tapi ka Chapunk dan Dinar pergi ke rumah Mandar untuk ketemu dengan Horst Liebner, arkeolog asal Jerman. Pas kita selesai shalat dan mau nyusul ke rumah Mandar, eh malah dikejar ama anjing. Huhhh.. anjing nakal..

Ketemu ama Rijal, terus cerita-cerita deh. Akhirnya jam 7 kita pulang juga..

Hari ini, gue sangat senang. Seperti merasa hidup di zaman itu. Wah, pokoknya Somba Opu is the best. hehehehe

di depan meriam jaman baheula

with Kak Chapunk dan Dinar. foto by Mustafa

bersama kak Chapunk dan Dinar

2 thoughts on “jalan-jalan ke Somba Opu

  1. trims masi menghargai warisan leluhur (adat istiadatnya), meriam karya Alm. H. Muchtar Ibrahim Dg. Naba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s