Makassar menuju Jakarta Kedua

macet yang mulai melanda kota daeng

saya ingin mencoba me-refresh ingatan saya tentang Makassar tiga tahun lalu. Memori kembali terulang pada tahun 2008. ketika saya masih sangat jatuh cinta pada kota anging mamiri ini.

pada tahun itu, mobil belum sangat padat seperti saat ini. kecepatan motor masih bisa mencapai 60km/jam. namun sekarang, ketika pada jam-jam sibuk seperti pagi hari, siang hari dan sore hari jangan harap bisa melajukan kendaraan. terkadang motor hanya bisa melaju pada kecepatan 20km/jam.

usut punya usut, menurut Identitas edisi Desember 2010, Sulawesi Selatan memiliki tambahan 5.000 kendaraan roda dua dan roda empat selama 2010 setiap bulan. nyaris menyamai pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor di Jakarta. Bayangkan saja berapa pertambahan yang dicapai oleh total keseluruhan mobil dan motor yang ada di Makassar. Luas Kota Makassar hanya 175,79 km2, dibandingkan dengan Jakarta yang punya luas 661,52 km2.

mobil dengan plat luar sulawesi selatan

Selain itu, banyaknya mobil dengan nomor polisi dari luar daerah Sulawesi Selatan membuat kota daeng ini semakin macet. mobil atau motor dengan plat bernomor B, F, DT, KT, DN, DC, dan lain sebagainya masuk

Pantas saja, ketika di beberapa titik macet pada jam-jam tertentu kita akan menemui hambatan yang sangat panjang. Sama seperti kemarin, Rabu (5/10), ketika sedang menuju Makassar Trade Center (MTC) saya menemui hambatan dari Pintu satu Universitas Hasanuddin (Unhas) hingga depan Makassat Town Square (M’Tos).

saat itu, saya seperti berada di Jakarta yang memang setiap hari memiliki intensitas kemacetan yang sama. hahaha. jadi ingat kota kelahiran ku.

sekarang menjadi PR bagi Gubernur dan Walikota untuk memikirkan konsep pemecah masalah transportasi yang sedang dihadapi. entah dengan membangun monorail yang sedang dicanangkan oleh Walikota Ilham Arief Sirajuddin, atau dengan konsep lainnya. Yang pasti sistem transportasi harus mengusung konsep Mass Rapid Transportation (MRT). Sebuah konsep transportasi massal dan cepat seperti shinkansen atau kereta api.

Atau Makassar lambat laun akan seperti Jakarta, yang saat ini masuk dalam peringkat pertama kota termacet di Indonesia. Tapi, semoga tidak terjadi…

Karena ketika Makassar menisbahkan dirinya sebagai kota dunia, maka butuh perencanaan yang baik dalam tata kelola ruang. Entah dalam pengelolaan jalan raya, area parkiran di badan jalan, atau rambu-rambu lalu lintas. Makassar butuh perombakan dalam hal-hal tersebut untuk menuju Makassar Kota Dunia. inysAllah bisa tercapai.. amien…

2 thoughts on “Makassar menuju Jakarta Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s