Serpihan-serpihan memori tentang Identitas

Kali ini saya ingin bercerita mengenai sebuah keluarga yang mengajarkan saya tentang kehidupan. Mungkin anda akan menganggap saya terlalu lebay, tapi inilah kenyataan. Sebuah fakta yang terkadang tak bisa terelakkan dalam perjalanan panjang hidupku. Dimulai ketika saya masuk di Kampus Merah, Universitas Hasanuddin pada tahun 2008. Saya yang menjadi kaum minoritas di Sulawesi merasa asing dengan kehidupan kampus yang sangat egaliter. Berbeda dengan daerah individualis tempat saya dilahirkan, Jakarta. Bukan saya membandingkan, tapi menurut saya terdapat perbedaan yang sangat khas diantara setiap daerah. Dan antara Sulawesi dan Jakarta juga memiliki persamaan yang khas pula.hhehe

Oke, kembali ke cerita panjang hidupku. Ketika saya memulai untuk memilih Jurusan Ilmu Kelautan, saya berfikir akan mengorientasikan hidup saya pada kejayaan kelautan. Eheheh. Menjadi seorang Menteri Kelautan adalah cita-cita awal saya ketika menginjakkan kaki di daerah ini.
Namun, selama setahun di salah kota metropolitan Indonesia membuat saya berpikir, bahwa saya masih kanak-kanak dan harus mencari cara agar bias mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Knapa saya bisa berpikir demikian??

Ada hal yang membuat saya selalu penasaran. Pernah saya mendengar cerita seorang senior yang memberikan petuah bahwa kehidupan kampus akan sangat menyenangkan. Saya bisa memiliki banyak teman, banyak ilmu, dan paling penting belajar tentang kehidupan.

Akhirnya, saya pun mencoba mengikuti sebuah organisasi yang menurut saya sangat menantang. Hmmm. Mungkin kalian sering mendengar tentang Koran kampus. Dan nama Koran kampus di universitas saya adalah identitas. Agak menarik perkenalan saya dengan Koran ini. Pada bulan September 2008, saya mendapatkan satu eksemplar Koran identitas yang memiliki judul yang sangat menarik. “Kata Anjing berbuah Skorsing”, menjadi headline Koran identitas pada bulan tersebut. Saya agak penasaran juga dengan Koran ini, sudah dibagikan gratis, tapi kata-katanya sangat kasar. Menurut penilaianku, Koran ini termasuk aneh dan hebat. Maklum, saya masih ingusan dalam menilai sesuatu.

Akhirnya, saya berpikir untuk masuk dalam bagian identitas. Dan saya pun memutuskan untuk mendaftar dan mengambil formulir di secretariat identitas. Awal masuk di organisasi ini, saya merasa agak tertekan. Hal-hal yang tidak pernah saya lakukan dulu, harus bahkan wajib saya lakukan disini. Misalnya mencuci piring, menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Hahaha. Saya emang tipe anak-anak yang jarang membantu pekerjaan rumah, selain memasak. Hehehe.

Lama kelamaan, saya jatuh cinta pada suruhan semua senior, canda tawa mereka, dan semua hal indah lainnya. Walau disini ajang untuk beradu mulut ketika rapat, tapi disini sangat menyenangkan. Lewat identitas pula saya bias mendapatkan banyak koneksi dan pengetahuan. Misalnya saja pengetahun untuk menulis, berbicara di depan umum, merayu narasumber, dan hal baik mapun buruk lainnya. Hahaha.

Dan ternyata, kecintaan saya pada organisasi ini membuat saya lebih merasa berpengalaman. Tak ada yang sia-sia ketika saya masuk di dalam organisasi ini. Entah karena keakraban senior, pengalaman yang didapat, atau omelan. Hahaha. Tapi, semua itu menjadi pelangi warna dalam hidupku hingga saat ini.

Tak terasa sudah tiga tahun saya ikut dalam organisasi ini, dan tiga bulan lagi akan ada pemilihan pimpinan redaksi. Sebuah rutinitas yang akan mencari calon pemimpin baru demi generasi media di dalam kampus merah.
Semoga refleksi ini, bias membuat saya, ataupun anda yang membacanya bisa mengambil hikmah..amien..

Tamalanrea, 1:01 AM 9 Oktober 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s