Surga Bawah Laut itu Namanya Kapoposang

Keindahan Kapoposang sudah menjadi buah bibir di semua penyelam. Dua minggu lalu, Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (FoPMI) datang dan mencicipi sepotong keindahan yang diberikan oleh Tuhan. Nyaris semua penyelam dari berbagai daerah itu berdecak kagum dengan keadaan di Kapoposang.

Perjalanan Singkat Menuju Surga Bawah Laut

Awal Perjalanan Menuju Pulau Kapoposang kami lakukan pada hari Sabtu (10 Maret 2012). Dengan menumpang truck TNI AL, kami menaiki kapal Novita Sari di Pelabuhan Kayu Bangkoa. Sebuah pelabuhan rakyat yang dulunya digunakan sebagai transit kayu bangkoa (bakau.red) dari pulau-pulau di gugusan Spermonde. Namun, saat ini pelabuhan ini hanya berfungsi sebagai pelabuhan bagi kapal yang ingin menuju pulau di sekitar Makassar.

Cuaca saat ini masih kurang bersahabat. Memasuki kawasan perairan Pangkajene Kepulauan (Pangkep), kapal mulai bergoyang. Sang Nahkoda, H. Dahring tetap tenang membawa kapal walau banyak dari penumpang yang sudah mual dan akhirnya muntah. Maklum saja, jika cuaca sedang tidak baik, tinggi ombak bisa sampai 5 meter. Cukup untuk bisa membuat kapal bergoyang-goyang. Apalagi jika melewati daerah Pulau Kondong Bali, disana arusnya lumayan kencang.

Akhirnya, kami menempuh perjalanan hampir sekitar 5 jam. Ketika kapal sudah mulai memasuki kawasan perairan Pulau Kapoposang. Para penyelam mulai bersiap untuk turun menyelam. Persiapan seperti Bouyancy Control Device (BCD), Masker, Regulator, Tabung Selam dan Fins dipersiapkan.

Satu per satu penyelam mulai turun dengan posisi penyelaman masing-masing. Ada beberapa posisi entry selam jika sedang berada di atas kapal, yaitu Giant Step entry atau Back Roll entry. Posisi entry seperti itu digunakan diatas kapal besar yang stabil. Karena perairan Pulau Kapoposang sangat landai, maka kapal besar tidak bisa memasuki pantai Kapoposang.

Tak semua penyelam turun pada sore ini. Saya memilih untuk turun dan menaiki kapal kecil yang hanya muat untuk 10 orang. Penduduk lokal menyebutnya Katinting’. Bahasa lokal Makassar untuk menyebut jenis kapal tersebut.

Menjejakkan Kaki di Pasir Putih

Ketika pertama kali tiba di Kapoposang, saya langsung mencari tempat duduk. Seorang penduduk pulau dengan ramah memberikan saya kursi plastik warna hijau. Teman-teman mulai mengambil posisi masing-masing untuk beristirahat.

Serbuuuu..

Tak lama kemudian, seorang teman berinisiatif meminta kelapa muda kepada penduduk yang terlihat menggoda di atas pohon. Cuaca panas

membuat saya dehidrasi dan memang membutuhkan asupan kesegaran. Akhirnya satu per satu kelapa jatuh ke tanah. Kami berebutan buah kelapa yang ada. Sekira 30 menit kemudian, kelapa tak tersisa. Habis masuk ke dalam perut masing-masing.

Pohon kelapa yang menjulang tinggi menjadi pemandangan yang tak asing di pulau ini. Buah kelapa menjadi salah satu komoditas utama di pulau ini. Penduduk pulau Kapoposang senang dengan buah kelapa. Entah dibuat untuk pupuk tanaman kelapa, bahan bakar, atau untuk diminum ketika haus.

Keindahan Sunset di Kapoposang

Dermaga at Sunset..

Keindahan wisata bahari tidak akan lengkap tanpa melihat sunset. Rutinitas melihat sunset sudah rutin saya lakukan ketika saya pertama ke pulau. Menurut saya, sunset merupakan anugerah terindah. Di tempat tinggal saya, Bogor, sangat sulit pergi ke pantai. Jarak yang jauh dan

mahalnya transportasi membuat saya jarang ke pantai.

Jadi, kesempatan melihat sunset akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk merenungi pemberian Tuhan kepada saya.

Mencicipi Surga Bawah Laut

Kapoposang terkenal dengan keindahan terumbu karangnya. Jika pulau-pulau di sekitar Kapoposang terumbu karang sudah hancur karena di bom. Maka di Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang kita masih bisa melihat banyak terumbu karang yang utuh dan sangat cantik.

foto by Untung Saroha Sihombing

Warna-warni soft coral (karang lunak) dan hard coral (karang keras) menghiasi panorama bawah laut. Sebuah lukisan indah yang dimiliki oleh Kapoposang.

Kondisi perairan yang jernih dan daya penglihatan (visibility) yang baik menjadi daya tarik wisatawan yang paling utama. Belum lagi keindahan Kapoposang yang terbagi dalam beberapa titik penyelaman.Yaitu Cave Point, Turtle Point, Januar Point, Tanjung Point, Teluk Point, Marjono Point, Aquarium Point, Nakano Point dan sang primadona bagi para diver Shark Point.

Dive point tersebut sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Beberapa titik penyelaman terletak disekitar pulau dengan waktu tempuh sekitar 5 – 30 menit dari bungalow seperti Aquarium Point.

foto by Untung Saroha Sihombing

Untuk para photographer pengejar keindahan bawah laut untuk diabadikan menggunakan kamera, wajib datang kesini. Karena banyak titik penyelaman yang bisa menghasilkan foto yang spektakuler seperti Cave Point, Turtle Point dan Shark Point. Biota laut nan cantik seperti Nudibranch (kelinci laut), kima, dan berbagai hewan lainnya menunggu kalian di bawah sana.

Selamatkan Penyu dari Kepunahan

Kapoposang tak cuma terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Di pulau ini, ada tempat penangkaran bagi Penyu. Bedakan antara penyu dan kura-kura lho! Satwa langka dengan nama latin Chelonia mydas ini ditangkarkan oleh masyarakat setempat bernama Komunitas Bahari. Pulau Kapoposang memang dikenal sebagai salah satu tempat penyu bertelur. Jadi, ada beberapa penyu yang memang dirawat dan dijaga hingga dewasa dan di lepas. Namun ada beberapa tukik yang langsung di lepaskan ke laut. Jadi, datanglah ke Pulau Kapoposang pada bulan Februari, mungkin saja anda bisa melihat penyu yang bertelur dan dilepaskan ke laut.

Saya senang melihat penyu-penyu remaja yang sedang berenang di dalam kolam penangkaran. Pemandangan yang mungkin bisa dilihat di beberapa daerah seperti Kawasan Ujung Genteng. Mari kita sama-sama menyelamatkan hewan ini dari kepunahan. Hidup penyu!!

Fasilitas di Kapoposang

Sebagai salah satu destinasi wisata bahari di Sulawesi Selatan, Kapoposang memiliki beberapa fasilitas penunjang. Penginapan dengan jenis cottage dan bungalow tersedia disana. Ada juga lho sebuah kamar dengan fasilitas untuk keluarga BESAR. Karena terdiri dari banyak kasur. Bisa ngajak mbah, cucu, sepupu, ayah, ibu, adik, kakak dan pacar atau gandengan tentunya.

Pemandangan dari bungalow juga sangat mengasyikkan. Sunset bisa kita lihat dengan baik di arah barat. Selain itu, kalau nginep di bungalow ada sebuah point dive yang sangat indah yaitu Aquarium Point. Terletak tepat di depan bungalow, mungkin sekitar 5 menit kita sudah bisa melihat ikan-ikan kecil nan indah.

Namun, jangan harap ada sinyal telepon genggam disini. Sulitnya sinyal menjadi salah satu kendala yang harus segera dicarikan solusinya. Jadi, jangan harap bisa SMS-an, internet-an, BBM-an dan lain-lain menggunakan handphone. Buat yang Handphone Addict, siap-siap nangis “bombay”.. hahaha.

Tak hanya itu, fasilitas transportasi menuju Kapoposang juga sangat minim. Hanya orang-orang ber-budget besar yang bisa datang ke pulau tersebut. Tidak tersedianya kapal reguler, membuat sedikit pengunjung kesini. Biaya untuk menyewa Speed Boat sekitar 300 ribu untuk pulang pergi. Lumayan besar untuk mahasiswa kayak saya. Hehehe. (Curhat…)

Bersantai di Bungalow Pulau Kapoposang..

Saran untuk Pulau “Seribu Kelapa”

Peningkatan fasilitas pulau untuk menunjang pariwisata sudah seharusnya dilakukan. Misalnya informasi yang memadai tentang Kapoposang seperti di website ini. Selain itu, info dalam bahasa inggris tentang Kapoposang sangat sedikit. Padahal wisatawan mancanegara senang dengan wisata bahari.

Mengoptimalkan penduduk dalam membantu perekonomian daerah tersebut. Misalnya memberikan pelatihan tentang diversifikasi penggunaan sumber daya alam di pulau Kapoposang. Seperti di PPLH Puntondo yang memberikan pelatihan diversifikasi penggunaan rumput laut sebagai kerupuk dan dodol. Sehingga harga jual semakin tinggi.

Bisa saja kan, buah kelapa yang banyak itu dibuat menjadi Nata de Coco dan bisa dijual. Harganya pasti lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual dalam bentuk kelapa utuh.
Jadi, sampai kapan harus menunggu melihat “surga bawah laut” di Kapoposang? Sepotong keindahan yang diberikan Tuhan di bumi Sulawesi Selatan.😀

*catatan perjalanan ini dibuat untuk ikut Lomba Blog Konten Blog Bertema: “Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan

Come and See Kapoposang at South Sulawesi..

Pasir Putihh.. yipppeee...

 

*catatan perjalanan ini dibuat untuk ikut Lomba Blog Konten Blog Bertema: “Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan”

Come and See Kapoposang at South Sulawesi..

4 thoughts on “Surga Bawah Laut itu Namanya Kapoposang

  1. saya dan tim twp kapoposang (kak yasir, kak glen, kak juliati dan dewi) akhir februari 2013 ke pulau suranti, dihantam badai musim barat, bersusah payah ke Gondongbali tapi akhirnya nginjek tanah Gondongbali jugak trus besoknya pas mau ke Kapoposang digempur habis-habisan ombak tiga meter. alhamdulillah masih hidup sampai sekarang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s