Cenil, salah satu kudapan tradisional. Setiap sya menemani Mbahku belanja di Pasar dekat rumah, sya selalu merengek minta cenil. Simbah penjualnya selalu baik dan menambah porsi cenil saya. Ia juga selalu memberikan gula dan parutan kelapa tambahan. Karena ia tahu setiap kali saya datang, artinya butuh waktu berjam2 untuk tiba disini. Ia membungkus cenilnya dengan daun pisang, sehingga aroma cenilnya terasa. Terakhir kali saya melihatnya adalah sebelum lebaran 1436H. Ia tersenyum ketika saya merengek ke Mbah untuk minta dibelikan porsi 5000ribu. Ia pun menambahkan gula dan kelapa seperti biasa. Ia sudah tau bahwa saya hanya suka cenil, bukan tape atau ketan sebagai pelengkap.
Namun pagi ini, ketika saya merengek ke Mbah saya untuk membeli cenil, saya tidak mendapati sosok tersebut di kios pojok. Seorang ibu yang lebih muda yang sekarang menjaga kios tersebut. Masih ada cenil, namun tak dibungkus daun pisang. Cenil yang sudah dicampur dengan ketan, tape dan berbagai pelengkap lainnya di dalam satu wadah plastik. Tak ada lagi daun pisang. Saya pun bertanya-tanya, kemana perginya Simbah penjual cenil. Ibu tersebut menjawab, bahwa ibunya telah pergi ke pangkuan Nya. Sya hanya mendoakan semoga Simbah penjual cenil bisa damai disisiNya. Namun sedih rasanya tak bisa mendapati sosok yang lekat di dalam kehidupan masa kecil. Saya semakin sadar bahwa saya pun mendekati kematian. #alfatihah #simbahcenil

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s