Duka di Hari Buruh

Cerita tentang 1 Mei Berduka

Pagi-pagi sekali ketika membuka mata, handphone tiba-tiba berbunyi. Dari Ayah

“Nak, nenek sedang dipacu jantungnya, tolong doakan”

Saya terpaku, sekejap bangun dan segera berdoa. Giska sudah mulai meraung-raung. Saya merenung. Terdiam dan terduduk.

Segera setelahnya otak saya bekerja untuk membeli tiket ke Makassar, namun apa daya tiket ke Makassar tidak ada penerbangan paling pagi. Jam 14.40 yang tersisa. Saya kalap. Saya memborong dua tiket. untuk saya dan sepupu saya.

Pada pukul 06:07 telepon ku berdering kembali. “Nak, nenek sudah tiada, tolong doakan. Tolong juga kabari keluarga di Ambon”

Saya pun menangis di jalan. terduduk dan terdiam. Saya tiba-tiba mengenang seluruh kenangan saya selama 24 tahun bersama beliau. Saya masih ingat samar-samar, beliau selalu membuatkan kue klapertaart khas Ambon, berkreasi dengan rambutan, memasak ikan kuah yang sangat kaya rasa rempah. Saya tiba-tiba mengenang segalanya. Sepanjang jalan menuju ATM, saya menangis tersedu-sedu.

Tiba-tiba telepon berdering kembali. Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Ternyata adik kedua saya, Hany yang menelpon. “Mbak, nenek beneran udah meninggal? Huuaaaa…” Ia tiba-tiba menangis. Dan jadilah kami menangis bersahut-sahutan. Saya panik. Semua nomor telepon keluarga di Ambon langsung saya hubungi.

Saya patah lagi. benar-benar patah.

Telepon berbunyi kembali, kali ini Ayah yang menghubungi. “Nak, nenek akan dimakamkan di Bekasi, pagi ini kita semua berangkat ke Jakarta,”. Saya pun tak bisa membantah. Tiket Ambon-Makassar dengan segera hangus tak bersisa.

Giska segera membeli tiket ke Jakarta dengan penerbangan langsung. Tanpa jeda. 3 jam 45 menit. Kami berdua pun segera berangkat ke bandara. Sepanjang perjalanan hanya diam dan diam. Usaha Giska datang ke Ambon untuk berlibur kandas sudah. Saya pun turut menyesalinya untuk mengajak dia ditengah keadaan nenek yang ternyata semakin parah.

Setibanya di bandara, kami mencari tempat duduk dan mulai bercerita. Giska memesan segelas teh, sedangkan saya memesan kopi pahit. Sedangkan saya benar-benar membutuhkan candu. Giska mengingat nenek ketika mulai menuangkan tehnya di ke dalam cangkir. Segera setelahnya ceritapun mulai berkejaran. Mulai dari nenek sehat dan bercanda, nenek yang masih bisa tersenyum, nenek yang merasa kehilangan dan cerita tentang nenek lainnya.

Kami pun menangis kembali. Entah sudah keberapa kalinya kami menangis. Sampai-sampai di akhir pertemuan kami, hanya ada senyum yang menghiasi wajah kami berdua. Sepertinya tangis telah berubah dengan keikhlasan. Kami ikhlas. Sangat ikhlas saat itu.

Selepas mengantar Giska di pintu bandara, saya pun pulang. Sepanjang perjalanan membawa motor, saya menangis lagi. Bukan karena sedih, tapi karena senang dan bangga nenek meninggal di hari Jumat. Karena menurut hadist, Hari Jumat adalah hari istimewa. Semoga nenek bahagia disana. Aamin ya rabbal alamin.. Teriring al fatihah untukmu, nek..

Dari salah satu cucu yang amat mencintaimu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s